Masa Orde Baru dan Sejarah Lahirnya Supersemar

Masa Orde Baru dan Sejarah Lahirnya Supersemar

Orde baru merupakan sebuah rezim pemerintahan yang pernah berkuasa di Indonesia selama 32 tahun yang dipimpin oleh Jendral Soeharto. 
Istilah orde baru muncul untuk membedakan periode pemerintahan era Soeharto dengan periode pemerintahan era Presiden Soekarno yang bernama orde lama.

Mengapa pemerintahan orde baru berkuasa begitu lama?

Hal ini dikarenakan Presiden Soeharto merupakan sosok pemimpin yang bijaksana dan dapat menggiring Indonesia ke tingkat yang membanggakan. Beberapa kemajuan yang terjadi di Indonesia pada era Presiden Soeharto antara lain: majunya perkembangan infrastruktur, meningkatnya jumlah ekspor beras, hingga meningkatnya nilai tukar rupiah.

Masa orde baru tidak akan terlepas dari sejarah lahirnya surat perintah tanggal sebelas maret atau yang dikenal dengan supersemar. Supersemar adalah surat perintah yang ditandatangani pada tanggal 11 Maret 1966 dan menjadi awal peralihan dari masa orde lama oleh Presiden Soekarno ke pemerintahan orde baru oleh Presiden Soeharto.

Gambar: surat perintah 11 Maret 1966

Latar Belakang Lahirnya Supersemar

Lahirnya Supersemar atau Surat Perintah 11 Maret dilatarbelakangi oleh peristiwa G30S/PKI pada 1 Oktober 1965. Pada akhir Oktober 1965, para mahasiswa membentuk Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) dengan dukungan dan perlindungan tentara. Ada juga KAPPI (Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia), dan kesatuan-kesatuan aksi lainnya. Semuanya tergabung dalam Front Pancasila. Selain memprotes Soekarno yang tak bersikap apa-apa terhadap peristiwa G30S, rakyat juga memprotes buruknya perekonomian di bawah Sukarno. 

Memasuki 1966, inflasi mencapai 600 persen lebih. Aksi unjuk rasa pun semakin kencang. Pada 12 Januari 1966, Front Pancasila berunjuk rasa di halaman gedung DPR-GR. Mereka menuntut tiga hal yang dikenal dengan Tritura. Isi Tritura yakni: 
1. Pembubaran Partai Komunis Indonesia (PKI).
2. Pembersihan Kabinet Dwikora dari unsur-unsur yang terlibat G30S.
3. Penurunan harga. 

Demonstrasi mahasiswa secara besar-besaran kembali terjadi di depan Istana Negara.  Menteri/Panglima Angkatan Darat Letnan Jenderal Soeharto pun meminta agar Soekarno memberikan surat perintah untuk mengatasi konflik apabila diberi kepercayaan.

Tujuan Supersemar

Untuk mengatasi situasi yang terjadi pada saat itu, dikeluarkanlah Supersemar dengan beberapa tujuan. Seperti:
1. Pembubaran Partai Komunis Indonesia (PKI) beserta ormasnya dan menyatakannya sebagai partai terlarang.
2. Penangkapan 15 menteri yang terlibat atau pun mendukung G30S/PKI.
3. Pemurnian MPRS dan lembaga negara lainnya dari unsur PKI dan menempatkan peranan lembaga itu sesuai UUD 1945.

Isi Supersemar

Surat Perintah Sebelas Maret 1966 berisi mandat Presiden Soekarno kepada Letjen Soeharto selaku Menteri Panglima Angkatan Darat untuk:
1. Mengambil segala tindakan yang dianggap perlu untuk terjaminnya keamanan dan ketenangan serta kestabilan jalannya pemerintahan dan jalannya revolusi. Menjamin keselamatan pribadi dan kewibawaan pimpinan presiden/panglima tertinggi/pimpinan besar revolusi/mandataris MPRS demi untuk keutuhan bangsa dan Negara Republik Indonesia, dan melaksanakan dengan pasti segala ajaran pemimpin besar revolusi.
2. Mengadakan koordinasi pelaksanaan perintah dengan panglima angkatan lain dengan sebaik-baiknya.
3. Supaya melaporkan segala sesuatu yang bersangkut-paut dalam tugas dan tanggung jawabnya seperti tersebut diatas.

Lengsernya Masa Orde Baru

Berakhirnya masa Orde Baru di Indonesia diawali pada tahun 1997. Hal ini ditandai dengan terjadinya kerusuhan hingga menyebabkan pertumpahan darah. Dan juga krisis moneter parah yang terjadi pada masa itu dan membuat nilai tukar rupiah jatuh. Ditambah lagi demo besar-besaran yang dilakukan oleh para mahasiswa yang menuntut Presiden Soeharto untuk turun dari jabatannya dan sesegera mungkin melakukan reformasi dengan beberapa tuntutan penting, seperti:
1. Penghapusan Dwifungsi ABRI.
2. Penurunan maupun pengadilan terhadap Soeharto dan kroni-kroninya.
3. Penghapusan praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme.
4. Penegakan supremasi hukum.
5. Amandemen UUD 1945.
6. Pelaksanaan otonomi daerah seluas-luasnya.

   
Gambar: Kerusuhan pada Mei 1998

Gambar: kerusuhan pada Mei 1998

Presiden Soeharto akhirnya menyampaikan pengunduran diri pada tanggal 21 Mei 1998. Berakhirnya masa jabatan Soeharto inilah yang menjadi tanda runtuhnya Orde Baru.

Demikian sedikit pembahasan mengenai masa Orde Baru dan sejarah Supersemar.



Oleh: 1. Elvara Alfriska Rivai (13)
          2. Radja Shandia (28)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perkembangan IPTEK dan Minat Baca Pelajar